Menceritakan Potongan-Potongan Kejadian
: Di Conservatory Garden
Apakah di kotamu ada layang-layang terbang, atau anak-anak
menangis sebab pohon mangga merampas balon dari tangannya.
Kata ibu, setiap yang terbang akan jatuh. Mulanya aku percaya,
kecuali setelah kuingat doa-doaku yang tak pernah kembali
menyampaikan balasan dari langit. Mungkin ibuku berbohong,
tapi kulihat hidung ibu masih sama, hanya sedikit lebih gelap.
Di tempatku ada tangisan anak perempuan, setiap pagi, tanpa
peduli awal atau akhir pekan. Ia menangis dan seluruh daun-daun
berguguran. Burung-burung tak mau bermain dengannya, juga
kupu-kupu. Matahari hanya sebentar menghibur, lalu tangisan itu
semakin subur. Apakah di kotamu juga kau temukan. Atau,
yang sedikit lebih mirip. Pengemis menangis, misalkan.
Ibu juga pernah bercerita, tapi aku tak sepenuhnya percaya.
Katanya, hanya di tempatku kesedihan orang-orang tak pernah
diwartakan, sekalipun tersebab kematian. Berbelasungkawa
harus dengan rahasia meski akhirnya bocor juga. Itu membuatku
bertanya, itukah puncak tertinggi dari rasa peduli. Itukah amsal
kenapa selama ini dukaku dibiarkan berduru-duru.
Aku ingat, sebelum menuju bandara, kulihat empat mobil pikap
berjejer di jalan utara rumah. Dan bak belakang dari keempat
mobil itu telah penuh. Tanpa ibu. Apakah kau pernah melihat
seperti itu di kotamu: anak perempuan yang selalu menangis
setiap pagi, daun-daun berguguran, balon. Semuanya tiada. Kecuali
pohon mangga, di sana aku pernah berdarah, dan tulangku patah.
Adakah di kotamu hal-hal semacam itu. Rindu adalah kuda hitam.
Ia bisa begitu jantan meskipun terkadang ia lebih betina dari wanita.
Setiap pagi, di musim semi seperti ini, aku akan sangat merindukan
ladang-ladang. Sampai hati benar-benar menari seperti ilalang.
Sebab di sini, cuaca membuat suhu rasaku mati kendali. Apakah
ini juga puncak tertinggi rasa peduli dari kota yang baru kukenali.
2020
Menceritakan Mimpi Kepada Satrya
I
Langit sedang bekerja¬—siang itu di jalan raya depan rumah pemerintah.
Ia mencatat plat mobil dan motor yang lumpuh. Dan kau memintaku
menjadi pohon, agar setiap kemacetan datang, kau tak kepanasan.
Bukankah AC telah kuhidupkan? Tuduhmu: angin di kota ini dan AC
mobilku sama buruknya. Dicipta untuk sebagian jenama hidung saja.
Langit sedang bekerja¬—siang itu di jalan raya depan rumah pemerintah.
Ia mencatat plat mobil dan motor yang lumpuh. Dan kau memintaku
menjadi pohon, agar setiap kemacetan datang, kau tak kepanasan.
Bukankah AC telah kuhidupkan? Tuduhmu: angin di kota ini dan AC
mobilku sama buruknya. Dicipta untuk sebagian jenama hidung saja.
Dari dalam mobil taksi hitam, aku mendengar seorang meminta seorang
yang lain menjadi helikopter—waktu itu kubuka jendela tuk membuang
jadwal rapat kantor—agar ia bisa terbang, sebab di udara tak pernah
ada harapan-harapan terbuang. Kecuali sedang hujan, saat layang-layang
tak bisa terbang. Ketika kututup jendela, tiba-tiba kau telah tiada.
II
Dan tiba-tiba juga, aku berada di pelabuhan. Kau ada di sana, di dekat
bolder dermaga. Kapal besar dengan muatan yang tak kubayangkan
berapa ton debar, bersandar ke dolphin. Sebelum melewati lengan trestel,
kupikir, ikan-ikan tercipta dari kecelakaan: penumpang tenggelam, kapal
karam, kotoran bahan bakar. Waktu itu aku tak ingat lagi kemacetan.
Aku tak mengerti mengapa bisa berada di sana. Yang kutahu hanyalah
para pesiar itu turun dan tak lagi merumuskan ombak dan mual-mual.
Engkau masih berdiri, sendiri. Tapi tak mampu lagi kuhampiri. Semakin
aku berlari, seorang buruh kepil memelukmu dan mengikatkan temali
kapal ke lenganmu yang adalah negaraku. Kau dicuri, pelabuhan mati.
2020
Larangan-Larangan Ibu
Ibu melarangku menyapu di awal petang, ia tak mau
cinta ayah dicuri malam, juga benda-benda peninggalan
masa silam yang menjadikannya juru selamat keluarga.
Katanya, debu dan kotoran tubuh hanya boleh disapu
saat aku dan matahari berbagi cotton candy, ketika
di dunia ini hanya ada satu cahaya: milik ibu dan ayah.
cinta ayah dicuri malam, juga benda-benda peninggalan
masa silam yang menjadikannya juru selamat keluarga.
Katanya, debu dan kotoran tubuh hanya boleh disapu
saat aku dan matahari berbagi cotton candy, ketika
di dunia ini hanya ada satu cahaya: milik ibu dan ayah.
Rumahku penuh bunga, beragam asal usulnya. Rabu lalu
kutemukan tangkai mawar di selokan sekolah, ia kritis
dengan selembar surat berwarna merah muda di lehernya.
Di akhir surat itu kubaca sesuatu, seperti wasiat malaikat:
Kelak, ketika kebencian ditakdirkan lupa ingatan, biarkan
gerbong kereta dan bus sekolah yang menegur demdam.
Ibu pun melarangku menanam mawar itu depan halaman,
katanya, tanah yang paling sakti melawan bala, ialah
di samping dan belakang rumah. Luka terlindung di sana.
“Depan rumah adalah jalan tol bagi ngilu dan lelah ayah
sepulang kerja. Segala sesuatu dilarang menghadang,
bahkan miliyaran harapan yang ibu pendam,” bisik ibu
Pernah, ibuku marah sebab celana dan baju pramuka
kucuci malam hari, kudengar suara serakya menyebut
ruh kasih sayang. Ibuku sangatlah takut perpisahan.
Sejak itu aku tahu, bahwa mencuci pakaian saat malam
adalah larangan. Mungkin banyak hal yang tak boleh
kulakukan. Melupakan aroma masakan ibu, misalkan.
2020
Di Malam yang Membuat Kita Memikirkan Banyak Hal
Setelah pengalihan jalan, kita akan melihat lampu strobo atau rotator
polisi berkeliaran. Kau berpikir, telah terjadi pencurian besar-besaran.
Mesin lampu PJU atau gardu listrik, misalkan. Tetapi kita tetap tidak
berani berciuman sebab cahaya kota masih teratur nyalanya. Mungkin
mereka hanya berpatroli, kataku. Memastikan bahwa anak-anak di
kota ini masih berani bermimpi. Seperti kita, dulu sebelum tahun baru.
polisi berkeliaran. Kau berpikir, telah terjadi pencurian besar-besaran.
Mesin lampu PJU atau gardu listrik, misalkan. Tetapi kita tetap tidak
berani berciuman sebab cahaya kota masih teratur nyalanya. Mungkin
mereka hanya berpatroli, kataku. Memastikan bahwa anak-anak di
kota ini masih berani bermimpi. Seperti kita, dulu sebelum tahun baru.
Kulihat rambutmu berdebat hebat. Mereka berebut ingin menari dan
menjadi mata-mata. Satu dari mereka lebih merah, seperti kembang api
yang baru raib indahnya. Ia melempar miliyaran kesepian ke langit,
kemudian ke mataku yang belum siap menangkap setiap isyarat. Aku
ingat, dulu, setiap malam tahun baru aku meminta ibu meniup terompet
daun pisang. Dan malam ini, terompet itu kembali berbunyi. Di antara
sengkata rambutmu yang belum berhenti. Aku melihat kesepian itu.
Di hadapan kita, jalan raya mengarah ke sebuah café dan restoran
yang sepi pengunjung. Kita pernah masuk ke keduanya. Di café itu
kita memesan dua cangkir teh dan melihat agamawan bertengkar
tentang musik yang sedang diputar. Lalu di restoran itu, kita dengar
keributan tentang kemiskinan yang dilarang undang-undang. Aku
ingin ke sana, memastikan bahwa kembang api tak berujung selisih.
Apa yang kau harapkan dari pergantian tahun kali ini, saat kota kita
seperti luar angkasa, kadang seperti dapur tradisonal yang telah digusur.
Aku tak benci pada siapapun. Selama kata-kata dibebaskan memilih
tuannya, dan reptil dan hutan merdeka memilih pohon-pohonnya. Aku
juga bersedia mengusir luka, mejadi dokter sementara, di hari upacara
bendera. Asal dirimu—tiang sedihku—tak pernah kenapa-napa.
Januari, 2021
Menjelang Akhir Tahun di Rumah Nenek
Menjelang akhir tahun di rumah nenek, setiap ruangan
berisi kekosongan dan harapan-harapan.
berisi kekosongan dan harapan-harapan.
Di ruang keluarga ada kursi yang tak pernah diduduki, kue yang depresi
menghadapi penantian. Sudut-sudutnya dihuni kenangan masa kecilku
ketika kuhabiskan usia di taman bermain dan menerbangkan banyak
layang-layang. Lantai dan langit-langitnya persis kemeja yang kukenakan,
terdapat warna-corak rindu yang selalu gagal dilukis seniman.
Televisi tua tak menyala, sinetron atau kartun-kartun kesukaanku
yang tayang tiap minggu, kini tiada, bagai suara kaki yang tersega-gesa
dan omelan nenek setiap akhir senja. Ternyata, di ruangan ini, tragedi
seringkali terjadi terutama pada dinding penuh foto bersama kami.
Di ruang tamu, tak ada rak-rak buku, tak ada akuarium, tak ada bunga
digantung, tak ada lukisan kaligrafi atau pegunungan serta air terjunnya.
Zaman cepat berubah, tapi di sini, kesepian masih berkuasa sejak lama,
sejak aku masih bocah dengan sepasang bola, saat tak pernah jatuh cinta.
Di rumah nenek tak ada meja makan, dapur adalah tempat paling dekat
dengan syukur, dengan volume bunyi piring, pun dengan suara serak
tuangan air. Ketika api menyala dan asap mulai nakal menganggu mata,
pada hari di mana nenek memasak kesedihannya, ingatanku bagai kayu
yang dibakar dalam tungku, bunga api masa lalu tak kunjung luruh.
Desember, 2020
Menjelang Akhir Tahun di Ruang Kerja Ayah
Di ruang kerja kulihat tumpukan koran dan map-map berisi kesibukan,
lalu kapsul tersimpan di balik tulisan dan warna stempel. Koran-koran itu
sedikit penghuni, iklan-iklan tak lagi betah, gambar-gambar bintang film,
penderitaan penyair, aib negara dan ramalan cuaca, hanya sekali kulihat
di sana. Di hari penyucian tiang bendera. Kecuali kabar duka.
lalu kapsul tersimpan di balik tulisan dan warna stempel. Koran-koran itu
sedikit penghuni, iklan-iklan tak lagi betah, gambar-gambar bintang film,
penderitaan penyair, aib negara dan ramalan cuaca, hanya sekali kulihat
di sana. Di hari penyucian tiang bendera. Kecuali kabar duka.
Waktu itu, mesin ketik sedang asik memainkan bakat bunyinya yang puitik,
sementara ayah kehilangan kesadarannya dan hanya sesekali melirik.
Aku tak peduli pada nyanyian-nanyian di balai, tak peduli pada orang-orang
yang berbaris menantang matahari. Sebab aku masih kecil juga dekil.
Dan aku hanya peduli pada koran itu: putih seksi dan berisi.
Ketika kutanyakan pada ayah kenapa koran-koran itu masih disimpan
sedangkan muskil untuk dibaca ulang, jawabnya, “zamanku dan zamanmu
tak lagi sama. Zamanku suku gagak sementara zamanmu bangsa merpati.
tapi keduanya selalu terbang dan hinggap di pemakaman. Di mana artefak
kesedihan orang-orang yang mati ada di sini. Di koran-koran ini.”
”Hanya pergantian tahun yang mampu memindahkan koran-koran itu
dari ruangan ini. Sebab setiap tanggal terbitnya, terdapat kehilangan yang
kutampung dan tak pernah rampung. Dulu, pernah ibumu mengambilnya
seikat lalu membacanya sambil menyusuimu. Tiba-tiba meja kerja marah,
dan menjatuhkan segala kenangan yang kususun di atasnya,” imbuh ayah.
Sejak itu, setiap menjelang akhir tahun, kulihat kembang api merah nyala
dari ruang kerja ayah. Menghambur ke udara, membentuk supernova,
menghapus segala kesedihan di koran, lalu memindahkannya ke plafon.
Dunia yang kucipta dalam kepala meledak dalam hitungan detak. Kini,
aku melihat bagaimana ayah menyendiri dan ibu yang seakan tak peduli.
Desember, 2020
Di Hadapan Cemara
Datanglah sebagai apa saja, Satrya, daun cemara telah dewasa.
Lebih hijau, lebih pandai berdansa dan menyimpan rahasia.
Lebih bahagia dari sewaktu engkau membawa dua tangkai bunga
tabebuya yang kau petik di taman kota. Sebelum kau serahkan
padaku sebagai hadiah terakhir. Taman itu, adalah tempat kita
mendoakan tanaman seperti yang tumbuh di antara jarak
—kau dan aku.
Lebih hijau, lebih pandai berdansa dan menyimpan rahasia.
Lebih bahagia dari sewaktu engkau membawa dua tangkai bunga
tabebuya yang kau petik di taman kota. Sebelum kau serahkan
padaku sebagai hadiah terakhir. Taman itu, adalah tempat kita
mendoakan tanaman seperti yang tumbuh di antara jarak
—kau dan aku.
Setelah puisi pertama aku tulis di hadapan alis pintu dan jendela
perpustakaan, aku ingin menjadikanmu seperti kekasih masa lalu,
menerima dan menyampaikan cahaya puisiku. Lalu luka, biarkan
menjadi zaman yang lain di hati penyairnya. Aku ingin lebih
lengkap mengenangmu dengan puisi-puisi, membacanya ketika
cuaca tak baik, ketika bekas-bekas rontokan rambutmu di bahu
kananku terasa melilit lambang-lambang yang berasal dari matamu:
air mata, kenangan, juga penderitaan.
Satrya, pada usia cemara yang ke berapa, pada doa pintu dan
jendela yang ke berapa, puisi-puisi tentangmu masih bekerja.
Merawat kesedihan, mengobati segala yang dilukai, menziarahi
setiap tatap yang mati. Maka berharap engkau datang sebagai
apa saja adalah satu-satunya pembelaan atas pasal perpisahan
yang kau putuskan padaku sebagai jalan hidup. Sebelum
dada ini diadili oleh cintaku sendiri.
Karangduak, 2020

0 Komentar